BELITUNG: superb beach

Belitung Blog

Blog EntryReuni 25 tahun Murid & GuruNov 14, '07 5:26 AM
for everyone

Hari Selasa 13/11/2007 kemaren, tiba-tiba ada lagi nomor telepon yang tidak dikenal membuat HP saya berdering, saya angkat dan terdegar suara lelaki setengah baya, "Halo, ini Pak Rustam ?". "Iya Pak, maaf ini siapa ya ?" jawabku. Ini Bu Muslimah mau bicara. Dan ternyata benar, Bu Muslimah sedang menjadi tamu di Depdiknas Jakarta sepulang menerima penghargaan Aisyiah Award di Yogyakarta. Beliau diminta oleh team Dikbud untuk singgah ketempat mereka untuk melakukan beberapa wawancara, sehingga beliau menginap satu hari di Hotel Kristal di kawasan Pondak Indah Jaksel.

"Ibu nginap dimana ?" kataku. beliau bingung dan langsung memberikan telepon ke orang yang menelpon saya tadi. "Beliau nginap di Hotel Kristal" katanya. "Baiklah Pak, tolong bilang sama Bu Mus, nanti malam saya bertamu ke sana" kataku. Senang juga aku mendengarnnya. Akhirnya aku punya kesempatan untuk menemui ibu guru yang mengajariku sejak kelas 1 sampai kelas 6 SD, yang karena novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, membuat saya sebagai salah satu mantan murid SD Muhammadiyah di desa Gantung, Belitong menjadi terpanggil untuk menemui beliau.

Seperti dikisahkan di dalam novel Laskar Pelangi, ibu Muslimah adalah seorang guru desa yang memiliki pengabdian begitu besar untuk mempertahankan kelanjutan sekolah dasar swasta SD Muhammadiyah di desa Gantung dengan begitu banyak tantangan, suka dan duka, dimana beliau menjadi tokoh utama seperti dikisahkan oleh Andrea Hirata dalam sebuah novel berjudul Laskar Pelangi. Novel ini selanjutnya menjadi best seller dan menjadi inspirasi bagi banyak orang tentang bagaimana para anak-anak kampung seperti kami dulu berjuang bersama para pendidik seperti Bu Muslimah untuk menjadi pelajar yang setara dengan murid-murid sekolah lain. Kesuksesan novel ini membuat media massa mulai menyorot kehidupan sebenarnya di balik cerita itu dan Bu Muslimah sebagai tokoh sentral juga terekspos ke permukaan bersama dengan Andrea Hirata tentunya. Berkat kesuksesan novel ini Metro TV mengundang bu Muslimah dan Andrea Hirata dalam salah satu episode acar Kick Andy.

Referensi tentang Novel Laskar Pelangi bisa dilihat di sini:
http://sastrabelitong.multiply.com
http://www.kickandy.com/topik.asp?id=95

Karena novel Laskar Pelangi, Bu Muslimah mendadak menjadi seperti selebriti. "Iya Tam, sekarang ini banyak orang-orang di kampung sekitar saya yang berseloroh, waduh Bu Mus, sekarang jadi selebriti, cuma kok telat bener, udah nenek-nenek". Begitu petikan percakapanku dengan Bu Muslimah yang pada malam itu berhasil aku temui di hotel Kristal yang berjarak hanya kurang lebih 1km dari kantorku di Wisma Pondok Indah, tetapi harus berjuang selama lebih dari satu jam untuk ke sana akibat macet totalnya wilayah Pondok Indah dsk akibat kombinasi dari hujan, bubaran pertandingan bola di stadion Lebak Bulus, plus tentu saja proyek Bus Way Pondok Indah yang kontroversial itu.

Akhirnya kami tiba di Hotel Kristal jam 10 malam, bukan waktu yang sopan untuk bertamu apalagi besok paginya Bu Muslimah harus berangkat ke airport jam 4 pagi untuk mengejar pesawat ke Belitung yang hanya tersedia pada jam 06.30 itu. Tapi namanya guru dengan murid, apalagi gurunya adalah Bu Muslimah, beliau dengan hangat menyambut kedatangan kami. Aku mengajak istri (yang sempat belanja souvenir untuk Bu Mus) dan kedua putriku Alsa (8) dan Shireen (3) yang sudah ngantuk berat, bahkan si Shireen sudah tidur lelap dengan bantal kesayangan yang selalu ditutupkan di muka (lihat foto).

Bu Mus terlihat senang sekali menyambut kami. Walaupun kami tidak pernah bertemu untuk kurun waktu 25 tahun, beliau tidak kehabisan bahan cerita sama sekali. Kami cerita bagaimana dulu sekolah kami yang hanya memiliki 3 ruang kelas itu, teman-teman seangkatanku, cerita para guru-guru lainnya, dan juga sanak famili masing-masing dimana beliau masih ingat betul silsilah keluargaku di Gantung termasuk juga menanyakan kabar orang tuaku yang juga dikenal baik oleh beliau pada masa kami masih tinggal di desa Gantung dulu. Beliau juga menceritakan kembali bagaimana akhirnya beliau berupaya terus menjalankan sekolah SD Muhammadiyah sampai akhirnya sekolah itu bubar.

Beliau sekali lagi bercerita begitu repotnya gara-gara novel Laskar Pelangi. Tidak pernah terbayangkan, beliau akan berjabat tangan dengan ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin dan mendapat kunjungan sutradara terkenal Riri Riza ke rumahnya yang sederhana di desa Gantung, Belitung. Beliau bersyukur dengan suksesnya novel Laskar Pelangi karya salah satu muridnya yang bernama Andis (Andrea Hirata) itu, banyak sekali perhatian yang kemudian datang dari para petinggi dan donatur yang mengulurkan tangan untuk membantu pendidikan di sana.

Tapi di balik semua itu, antara aku dan Bu Mus, mungkin juga antara Andrea Hirata dan Bu Mus, sama-sama memiliki kemiripan sejarah yang sangat mengesankan bagi kami sebagai mantan murid-muridnya yang dengan bantuan bu Muslimah berusaha menggali ilmu di tengah keterbatasan fasilitas sekolah. Sebagai mantan muridnya saya bisa merasakan kebanggan yang beliau rasakan sebagai titik balik dari keterbatasan yang kami alami dulu. Lebih dari itu kehidupan kami sebagai orang Belitung - pulau kecil di selat Karimata - juga terekspos dan bisa menarik perhatian banyak pembaca novel ini, sesuatu yang juga saya usahakan untuk ekspos melalui www.belitungisland.com, yang tidak mengalami banyak kemajuan walaupun sudah dibentuk sejak 7 tahun yang lalu.

Cerita tentang Bu Muslimah dan murid-muridnya di novel laskar Pelangi, saat ini dalam proses pembuatan film layar lebar-nya yang dibidani oleh sutradara terkenal Riri Riza. Mudah-mudahan, sebagaimana novelnya film ini juga akan banyak disukai orang.

Kisah dengan Bu Muslimah sebelumnya bisa dilihat di http://rustameffendie.multiply.com/journal/item/2

Terima kasih. Rustam Effendie


Pagi tadi 8/11/2007, aku mendapat missed call dari no telpon tak dikenal, pas aku telpon balik, tidak aktif. Beberapa saat kemudian telponku berdering lagi dan aku lihat nomornya sama dengan nomor yang tadi missed call. Seperti biasa, aku pikir pasti ini nomor agen asuransi, sales kartu kredit atau perusahaan pialang,...eh ternyata dari seorang perempuan muda, dan dia menanyakan apakah ini bang Rustam dari Belitong ? "Aok be, ini sape ye ? uje aku". "Ini aku, si..." ah lupa pula aku namanya...dan dia adalah kerabat dari Bu Muslimah.

"Haaaa...Bu Muslimah ?" Dalam hitungan detik, suara di telpon langsung berganti. "Iya Tam,...ape kabar ini Bu Mus. Agik ingat ke kau ? Ibu dapat nomor telpon kau dari adik Ibu, Bu Jum, nok waktu itu betemu kan kau de bandara". Ah benar2, setengah tak percaya,...aku mendapat telpon dari seorang guru yang mengajari aku di SD Muhammadiyah Gantung dari kelas 1 (1976) sampai kelas 6 (satu triwulan, 1982). Beliau benar-benar bu Muslimah yang pernah ada di acara Kick Andy Metro TV. Beliau sedang ada di Jakarta untuk kedua kalinya atas undangan Metro TV menghadiri acara dan penghargaan dalam rangka HUT PGRI.

Aku sedikit bingung harus cerita apa, karena masih sedikit tidak percaya bisa berbicara dengan seorang guru yang sangat aku hormati dan tidak pernah bertemu lagi sejak tahun 1982. Seorang guru yang sampai saat ini membuatku merasa bersalah dengan kata-kata beliau di saat terakhir aku keluar dari SD Muhammadiyah di tahun 1982. Waktu itu beliau bilang, "wah gimana yah Tam, sebenarnya ibu sudah mendaftarkan SD kita untuk ikut cerdas cermat dan kamu adalah sebagai juru bicaranya". Kata-kata itu begitu membuatkau merasa bersalah dan jika seandainya bukan karena mengikuti kepindahan orang tua, aku tentu saja akan tetap bertahan untuk membela nama baik sekolah di kejuaraan cerdas cermat antar SD di Gantung, waktu itu. Perasaan bersalah ini sampai sekarang membuat aku merasa berhutang kepada SD MUhammadiyah yang sudah tinggal kenangan itu.

Dalam percakapan telepon dengan Bu Mus, aku mencoba berbicara tentang orang-orang yang sama-sama masih kita kenal, dan beliau ternyata masih tetap kenal dengan sanak saudaraku di Gantong. Beliau juga masih ingat betul bahwa aku tidak menamatkan sekolah dasar di SD Muhammadiyah Gantung karena harus pindah ke Tanjungpandan pada triwulan pertama kelas 6 karena mengikuti kepindahan orang tua. Beliau benar-benar bu Muslimah,...yang begitu berkesan bagi Andrea Hirata,...dan juga bagi murid-murid yang lain seperti aku ini.

Hanya saja, sayang sekali kesibukan aku hari ini tidak memungkinkan untuk meluangkan waktu berkunjung ke tempat beliau di hotel Twink Plaza Tomang, sementara sore hari ini 8/11 beliau harus berangkat ke Yogyakarta untuk menghadiri acara penghargaan lagi. Sebagai mantan murid yang merasa begitu berhutang budi, aku rasa Andrea Hirata telah berbuat sesuatu yang besar, dimana tidak pernah ada seorang pun murid beliau yang menyangka bahwa Ibu Mus bisa mendapatkan apresiasi secara Nasional seperti sekarang ini. Sesuatu yang sangat layak beliau dapatkan bagi pandangan kami sebagai murid-murid beliau di awal tahun 80-an.

Terima kasih Bu Muslimah...
Terima kasih Andrea Hirata (walaupun saya tak kenal anda),..
Terima kasih untuk rekan-rekan yang sudah meluangkan waktu untuk baca.

Salam. Rustam Effendie
Mantan murid SD Muhammadiyah Gantung Belitung
http://rustameffendie.multiply.com
http://www.belitungisland.com


Blog EntryGanganOct 27, '07 10:02 AM
for everyone

Bagi saya orang Belitung, kata gangan sangatlah akrab. Gangan adalah nama masakan dari Belitung yang mirip dengan Lempa dari Bangka atau Asam Pade dari Sumatera Utara. Gangan begitu akrab bagi orang Belitung karena hampir setiap hari orang Belitung membuat masakan ini sebagai lauk sehari-hari. Gangan sangat disukai karena rasanya tidak terlalu lemak, tidak seperti rendang atau gulai ayam yang banyak santan, gangan lebih mengutamakan pada aroma bahan pokok yang digunakan yang berbeda-beda tergantung jenis ikan atau daging yang digangan.

Seperti apa bentuknya, coba lihat di sini. Gangan tidak lain adalah soup, sejenis tom yam. Warna khas gangan kuning, kecuali pakai santan warna gangan bisa menjadi cream. Warna kuning disebabkan oleh kunyit yang menjadi salah satu bumbu dominan. Rasa gangan sangat tergantung ikan atau daging yang digunakan. Semua jenis ikan umumnya bisa di gangan, tapi setiap jenis ikan bumbunya akan sedikit berbeda. Begitu pula daging, yang biasa di gangan hanya dua macam daging yaitu daging sapi dan daging pelanduk.

Gangan sangat enak dinikmati untuk makan siang, pada saat masih panas dimakan sebagai lauk beserta nasi panas. Makan nasi dengan gangan lebih enak lagi ditemani lalapan sambal terasi dengan rebus daun singkong muda, mentimun, atau terong. Enak tidaknya gangan sangat tergantung dari tingkat kesegaran ikan, semakin segar semakin enak. Selanjutnya, semakin gemuk ikan, terutama yang bertelur, juga semakin enak. Untuk ikan-ikan yang dibeli dari supermarket di Jakarta, saran saya jangan sekali-kali di masak gangan. Untuk gangan daging, biasaya yang digangan hanya tetelan saja, bukan daging. Tetelan harus dikombinasikan dengan lemak dan tulang iga agar aromanya lebih terasa. Gangan yang hanya menggunakan daging saja tidak akan enak.

Bumbu gangan tergantung jenis ikan dan daging. Bumbu utama dari gangan adalah kunyit, lengkuas, kemiri, cabe rawit, bawang merah, asam jawa, terasi, garam, gula dan sedikit serai jika gangan menggunakan ikan laut. Agar lebih segar, gangan dicampur dengan potongan-potongan nanas muda. Sedangkan jika bahan gangan bersal dari ikan air tawar (lele, gabus), bumbunya tidak menggunakan terasi, sebagai penambah aroma lebih baik ditambah daun melantang dan terong asam. Untuk gangan daging, mirip dengan bumbu gangan ikan air tawar tetapi ditambah sedikit kencur dan ditambah irisan-irisan singkong dan daun nangka muda untuk penambah aroma. Semua bumbu ditumbuk (tidak boleh di blender) dan kemudian direbus bersama-sama ikan/daging hingga mendidih dan ikan/daging menjadi lunak. Setelah mendidih, gangan siap disantap.

Ikan laut yang populer untuk di gangan adalah kepala ikan ketarap, ikan ilak, ikan kakap, ikan baronang, dll. Ikan-ikan yang berasal dari terumbu karang umumnya berbau amis, akan tetapi umumnya gemuk (berminyak) dan lebih enak. Untuk mengurangi bau amis, gangan dibuat pedas sekali dan hanya menggunakan cabe rawit. Cabe rawit asal Belitung aromanya lebih khas. Sedangkan ikan air tawar yang populer adalah ikan lele, dan tidak sembarang lele. Lele yang di gangan umumnya lele yang besar-besar, berwarna hitam (bukan coklat) dan diambil dari sungai. Di Belitung ada beberapa sungai di pedalaman yang menghasilkan ikan yang memiliki aroma khas dan sangat enak, namanya ikan bau ketiaw.

Anda mau mencoba gangan, silahkan mampir ke rumah saya. Kadang-kadang pembantu di rumah suka masak gangan daging. Di Jakarta akan sangat sulit membuat gangan ikan yang enak karena kualitas kesegaran dan rasa ikan yang di bawah standar gangan. Jika anda ke Belitung, gangan bisa dijumpai di rumah-rumah penduduk, dan kalau ke restoran, anda akan menjumpai gangan di restoran-restoran seafood tradisional di daerah Tanjung Tinggi. Di sana anda tinggal memilih ikan yang segar-segar dan restoran akan memasak gangan untuk anda.

Selamat Mencoba.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help