Blog diatas aku posting juga di milis belitungisland@yahoogroups.com dan komentar teman-teman membuat saya merasa betambah "feel guilty" karena kurang berusaha keras menemui beliau yang sudah meluangkan waktu untuk menelpon saya, walaupun beliau memang tidak minta untuk bertemu.
Sebenarnya aku memang ada rencana menemui belau, pas beliau balik dari Jogja, karena kemaren beliau sudah check-out dari hotel dan menginap di rumah saudaranya. Kebetulan kemaren aku juga meeting seharian di kantor, baru bisa balik ke rumah jam 11 malam.
Tapi karena email2 dari beberapa teman, pagi ini 9/11/07 aku baru saja nelepon lagi kemenakan beliau dan rupanya Bu Mus juga ada di situ. Mereka sekarang sedang ada di bandara akan berangkat ke Jogja untuk menerima penghargaan Aisyah Award. Cuma sayang, sepertinye habis dari Jogja Bu Mus akan langsung pulang ke Belitung. Tapi belau benar-benar berpesan kalau ke Gantong lagi, jangan sampai tidak singgah di rumah beliau.
Dalam pembicaraan telepon yang cukup singkat tadi pagi beliau sempat berkata, "Itu lah Tam, Ibu nih jadi semrawut ke sana ke sini gara-gara Andrea. Dulu waktu kalian sekolah ibu selalu mengajarkan kalau murid-murid harus pintar, eh pas udah pintar malah jadi kayak begini, bikin repot juga jadinya". Aku ketawa terbahak-bahak mendengarnya. Aku bilang "Yah Bu, menurutkan sebagai guru bukankah disitulah letak kebanggan Ibu". Beliau menjawab, "Iya sih Tam, tapi Ibu sebenarnye merase apa memang Ibu pantas menerima penghargaan di sana sini dan di sorot oleh begitu banyak media, rasa-rasanye ibu tidak pernah melakukan hal-hal yang luar biasa sebagai guru".
Agak tersentuh juga aku mendengar ucapan Bu Mus dengan kepolosannya. Tapi aku balik menghibur, "Begini Bu, ukuran apa orang layak mendapat penghargaan itu bermacam-macam. Tapi satu yang paling penting, bagi kam0-kami yang mantan murid Ibu, penghargaan itu sangatlah pantas karena sekolah kita dulu memang sekolah yang prihatin, ruang kelas cuma tiga dan tidak pernah penuh setiap tahun, tapi Ibu tetap menjalankan sekolah itu. Dan Andrea Hirata (si penulis novel Laskar Pelangi yang juga mantan murid Bu Muslimah) adalah contoh murid yang bisa membuktikan bahwa minimnya fasilitas sekolah bukanlah ukuran bahwa murid-murid yang dihasilkan akan tidak berkualitas".
Menyebut nama Andrea, beliau bertanya apakah aku senior atau junior nya si Andrea. Aku bilang aku menginggalkan sekolah itu tahun 1982. Beliau kurang ingat persis tahun berapa Andrea sekolah, tapi dia bilang sepertinya Andrea adalah junior saya karena pada saat dia bersekolah, SD Muhammadiyah bukan saja selalu kekurangan murid seperti tahun-tahun sebelumnya, tetapi bangunan yang hanya 3 ruang kelas itu sudah begitu rapuh. Itulah yang membuat ibu sering menangis waktu itu, seperti cerita-cerita di buku Andrea, walaupun mungkin tidak se dramatis seperti diceritakan di dalam novel Laskar Pelangi.
Memang kalau aku ingat-ingat, meskipun pada jamanku sekolah di SD Muhammadiyah dulu setiap tahun ada murid baru di kelas 1, tapi jumlahnya selalu menurun. Bahkan dulu di kelas ku, jumlah muridnya tidak lebih dari 25 orang. Padahal standar SD-SD negeri di Gantung waktu itu paling tidak satu kelas muridnya 30-40 orang. Kalau diantara rekan-rekan yang punya kerabat di Gantung yang pernah sekolah di SD Muhammadiyah, aku mencari orang-orang ini: Ranito, Totok, Sahrun, Hatta, Wawan, Iqbal, Upik, Yayan, Sipit, Mala, Yani, Lili, dll alumni tahun 1982. Tolong berikan nomor teleponnya kalau ada. Jadi kepikiran mau reunian nih !
Thanks buat yang baca dan komentar.
Salam. Rustam Effendie
http://rustameffendie.multiply.com