Hari Selasa 13/11/2007 kemaren, tiba-tiba ada lagi nomor telepon yang tidak dikenal membuat HP saya berdering, saya angkat dan terdegar suara lelaki setengah baya, "Halo, ini Pak Rustam ?". "Iya Pak, maaf ini siapa ya ?" jawabku. Ini Bu Muslimah mau bicara. Dan ternyata benar, Bu Muslimah sedang menjadi tamu di Depdiknas Jakarta sepulang menerima penghargaan Aisyiah Award di Yogyakarta. Beliau diminta oleh team Dikbud untuk singgah ketempat mereka untuk melakukan beberapa wawancara, sehingga beliau menginap satu hari di Hotel Kristal di kawasan Pondak Indah Jaksel.
"Ibu nginap dimana ?" kataku. beliau bingung dan langsung memberikan telepon ke orang yang menelpon saya tadi. "Beliau nginap di Hotel Kristal" katanya. "Baiklah Pak, tolong bilang sama Bu Mus, nanti malam saya bertamu ke sana" kataku. Senang juga aku mendengarnnya. Akhirnya aku punya kesempatan untuk menemui ibu guru yang mengajariku sejak kelas 1 sampai kelas 6 SD, yang karena novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, membuat saya sebagai salah satu mantan murid SD Muhammadiyah di desa Gantung, Belitong menjadi terpanggil untuk menemui beliau.
Seperti dikisahkan di dalam novel Laskar Pelangi, ibu Muslimah adalah seorang guru desa yang memiliki pengabdian begitu besar untuk mempertahankan kelanjutan sekolah dasar swasta SD Muhammadiyah di desa Gantung dengan begitu banyak tantangan, suka dan duka, dimana beliau menjadi tokoh utama seperti dikisahkan oleh Andrea Hirata dalam sebuah novel berjudul Laskar Pelangi. Novel ini selanjutnya menjadi best seller dan menjadi inspirasi bagi banyak orang tentang bagaimana para anak-anak kampung seperti kami dulu berjuang bersama para pendidik seperti Bu Muslimah untuk menjadi pelajar yang setara dengan murid-murid sekolah lain. Kesuksesan novel ini membuat media massa mulai menyorot kehidupan sebenarnya di balik cerita itu dan Bu Muslimah sebagai tokoh sentral juga terekspos ke permukaan bersama dengan Andrea Hirata tentunya. Berkat kesuksesan novel ini Metro TV mengundang bu Muslimah dan Andrea Hirata dalam salah satu episode acar Kick Andy.
Referensi tentang Novel Laskar Pelangi bisa dilihat di sini:
http://sastrabelitong.multiply.com
http://www.kickandy.com/topik.asp?id=95
Karena novel Laskar Pelangi, Bu Muslimah mendadak menjadi seperti selebriti. "Iya Tam, sekarang ini banyak orang-orang di kampung sekitar saya yang berseloroh, waduh Bu Mus, sekarang jadi selebriti, cuma kok telat bener, udah nenek-nenek". Begitu petikan percakapanku dengan Bu Muslimah yang pada malam itu berhasil aku temui di hotel Kristal yang berjarak hanya kurang lebih 1km dari kantorku di Wisma Pondok Indah, tetapi harus berjuang selama lebih dari satu jam untuk ke sana akibat macet totalnya wilayah Pondok Indah dsk akibat kombinasi dari hujan, bubaran pertandingan bola di stadion Lebak Bulus, plus tentu saja proyek Bus Way Pondok Indah yang kontroversial itu.
Akhirnya kami tiba di Hotel Kristal jam 10 malam, bukan waktu yang sopan untuk bertamu apalagi besok paginya Bu Muslimah harus berangkat ke airport jam 4 pagi untuk mengejar pesawat ke Belitung yang hanya tersedia pada jam 06.30 itu. Tapi namanya guru dengan murid, apalagi gurunya adalah Bu Muslimah, beliau dengan hangat menyambut kedatangan kami. Aku mengajak istri (yang sempat belanja souvenir untuk Bu Mus) dan kedua putriku Alsa (8) dan Shireen (3) yang sudah ngantuk berat, bahkan si Shireen sudah tidur lelap dengan bantal kesayangan yang selalu ditutupkan di muka (lihat foto).
Bu Mus terlihat senang sekali menyambut kami. Walaupun kami tidak pernah bertemu untuk kurun waktu 25 tahun, beliau tidak kehabisan bahan cerita sama sekali. Kami cerita bagaimana dulu sekolah kami yang hanya memiliki 3 ruang kelas itu, teman-teman seangkatanku, cerita para guru-guru lainnya, dan juga sanak famili masing-masing dimana beliau masih ingat betul silsilah keluargaku di Gantung termasuk juga menanyakan kabar orang tuaku yang juga dikenal baik oleh beliau pada masa kami masih tinggal di desa Gantung dulu. Beliau juga menceritakan kembali bagaimana akhirnya beliau berupaya terus menjalankan sekolah SD Muhammadiyah sampai akhirnya sekolah itu bubar.
Beliau sekali lagi bercerita begitu repotnya gara-gara novel Laskar Pelangi. Tidak pernah terbayangkan, beliau akan berjabat tangan dengan ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin dan mendapat kunjungan sutradara terkenal Riri Riza ke rumahnya yang sederhana di desa Gantung, Belitung. Beliau bersyukur dengan suksesnya novel Laskar Pelangi karya salah satu muridnya yang bernama Andis (Andrea Hirata) itu, banyak sekali perhatian yang kemudian datang dari para petinggi dan donatur yang mengulurkan tangan untuk membantu pendidikan di sana.
Tapi di balik semua itu, antara aku dan Bu Mus, mungkin juga antara Andrea Hirata dan Bu Mus, sama-sama memiliki kemiripan sejarah yang sangat mengesankan bagi kami sebagai mantan murid-muridnya yang dengan bantuan bu Muslimah berusaha menggali ilmu di tengah keterbatasan fasilitas sekolah. Sebagai mantan muridnya saya bisa merasakan kebanggan yang beliau rasakan sebagai titik balik dari keterbatasan yang kami alami dulu. Lebih dari itu kehidupan kami sebagai orang Belitung - pulau kecil di selat Karimata - juga terekspos dan bisa menarik perhatian banyak pembaca novel ini, sesuatu yang juga saya usahakan untuk ekspos melalui www.belitungisland.com, yang tidak mengalami banyak kemajuan walaupun sudah dibentuk sejak 7 tahun yang lalu.
Cerita tentang Bu Muslimah dan murid-muridnya di novel laskar Pelangi, saat ini dalam proses pembuatan film layar lebar-nya yang dibidani oleh sutradara terkenal Riri Riza. Mudah-mudahan, sebagaimana novelnya film ini juga akan banyak disukai orang.
Kisah dengan Bu Muslimah sebelumnya bisa dilihat di http://rustameffendie.multiply.com/journal/item/2
Terima kasih. Rustam Effendie